Teori Belajar Pengajuan Masalah Yang Relevan

Teori Belajar – Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003). Dari definisi tersebut, sistem pendidikan matematika yang diamanatkan undang-undang adalah sistem yang mewujudkan suasana pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi dirinya, yang salah satunya keterampilan. Dalam pembelajaran matematika keterampilan yang harus dikembangkan adalah keterampilan berpikir matematis.

Teori Belajar
Gambar : Kegiatan Belajar mengajar

Teori Belajar Pengajuan Masalah Yang Relevan

Menurut Mason, Burton, dan Kasey (2010) cara terbaik untuk memulai berpikir matematis adalah melalui suatu pertanyaan. Selanjutnya, terdapat tiga fase dalam berpikir matematis yaitu entry, attack, dan review. Pada fase entry, siswa harus mengantisipasi “apa yang saya tahu?”,  “apa yang saya inginkan?”, “ apa yang saya ajukan?”, dan membuat kesimpulan dari ketiga pertanyaan tersebut. Pada fase yang kedua, fase attack, siswa melakukan conjecturing dan convincing. Siswa membuat konjektur atay pernyataan yang dapat dipertanggung jawabkan (conjecturing), selanjutnya siswa harus bisa mengkomunikasikan alasan mengapa dugaan yang dibuat tersebut benar (convincing). Pada fase yang ketiga, yaitu fase review, siswa melakukan tiga tahap review. Pertama, siswa mengecek kembali keputusan yang telah dibuat, kedua, merefleksikan apakah keputusan yang dibuat sudah sesuai dengan ide dan momen kunci dari pertanyaan, dan ketiga,  memperluas pada konteks yang lebih luas.

Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa proses berpikir matematis paling efektif dimulai ketika siswa berhadapan dengan pertanyaan, yang identik dengan permasalahan yang diberikan guru. Artinya pengajuan masalah diawal pembelajaran dapat mendorong siswa untuk mulai berpikir matematis diawal dan sepanjang pembelajaran berlangsung. Sementara itu, jika guru menjelaskan terlebih dahulu maka kesempatan siswa untuk berpikir matematis lebih sedikit, karena baru dapat dimulai setelah penjelasan guru.

Pembelajaran dengan pengajuan masalah di awal pembelajaran, merupakan pembelajaran yang mengikuti paham kontruktivis. Menurut paham ini, pengetahuan tidak bisa diwariskan dan guru tidak bisa memberikan pengetahuan kepada siswa. Pengetahuan siswa harus di konstruk dalam pikiran mereka sendiri.  Dalam paham konstruktivist, belajar terjadi melalui kreasi yang berkelanjutan dan dugaan untuk menjelaskan apa yang diobservasi. Paham konstruktivist dipengaruhi oleh dua teori yaitu teori Piaget dan Vygotski. Pandangan Piaget berpendapat bahwa belajar matematika melalui penemuan berdasarkan apa yang diketahui siswa lebih efektif dari pada penjelasan yang diberikan guru. Dalam teori Piaget, pengetahuan terbentuk dari proses kognitif yang meliputi asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Proses asimilasi merupakan proses meletakkan informasi baru dan mencoba untuk mencocokkan informasi baru tersebut pada skema yang sudah ada. Proses akomodasi merupakan proses untuk mengubah aktivitas atau kemampuan untuk disesuaikan dengan informasi yang baru, atau merespon lingkungan dengan cara baru (jika pola belajar dari suatu skema belum tersedia). Pada proses terakhir, equilibrium, ketika persepsi individu cocok kedalam skema yang sudah ada, namun jika tidak sesuai maka terjadi dis-equilibrium.

Sementara itu, Vygotski mengemukakan teori tentang ZPD (Zona of Proximal Development), yang membahas tentang adanya perbedaan antara capaian yang dapat dicapai siswa sendiri dengan apa yang dapat dicapai siswa dengan bantuan orang lain. Dalam paham konstruktivis, guru diharapkan dapat memfasilitasi siswa dalam ZPD tersebut. Pengajuan masalah diawal pembelajaran memungkinkan siswa melakukan proses kognitif terlebih dahulu sesuai dengan skema yang telah mereka miliki masing-masing, selanjutnya guru dapat memfasilitasi siswa yang belum mencapai apa yang menjadi tujuan pembelajaran tersebut.

REFERENSI:

Mason, Burton, Satcey. 2010. Thinking Mathematically: 2nd Edition. UK: Pearson

Hamilton, Ghatala. 1994. Learning and Instruction. USA: McGraw-Hill

Leave a Comment